Syarat Terjadinya Reaksi
Reaksi dapat terjadi jika terjadi tumbukkan antar
partikel, tetapi tidak setiap tumbukkan antar partikel dapat terjadi reaksi,
hal ini disebabkan tumbukkan yang dapat menghasilkan reaksi harus mencapai
kompleks teraktivasi.
Untuk mencapai kompleks teraktivasi ini maka
partikel pereaksi harus memiliki energi minimum yang disebut energi aktivasi.
Ea = Energi aktivasi = energi minimum yang harus dimiliki partikel pereaksi agar reaksi dapat berlangsung.
Partikel yang memiliki Energi aktivasi
maka partikel tersebut mencapai kondisi partikel yang teraktivasi (partikelnya
siap memutuskan ikatannya dan siap membentuk ikatan baru).
Konsep
Dasar Keadaan Teraktivasi
Dalam
kimia, tidak semua tumbukan antar molekul reaktan akan menghasilkan reaksi.
Untuk terjadinya reaksi yang efektif, molekul-molekul tersebut harus
bertumbukan dengan orientasi yang tepat dan memiliki energi yang
cukup untuk mengatasi hambatan energi, yang disebut energi aktivasi ().
· Keadaan
teraktivasi (juga dikenal sebagai kompleks
teraktivasi atau keadaan transisi) terbentuk pada puncak energi di
sepanjang jalur reaksi. Pada titik ini, ikatan-ikatan lama pada reaktan belum
sepenuhnya putus, dan ikatan-ikatan baru yang akan membentuk produk belum
sepenuhnya terbentuk. Ini adalah "jembatan" antara reaktan dan
produk.
· Energi
aktivasi () adalah energi minimum yang diperlukan untuk membawa
reaktan ke keadaan teraktivasi ini. Semakin tinggi energi aktivasi, semakin
sulit reaksi terjadi, dan semakin lambat laju reaksinya.
Diagram energi yang menunjukkan reaksi eksoterm dapat dijelaskan melalui:
- Entalpi awal (H1) > entalpi akhir (H2)
menunjukkan sistem melepaskan energi, ∆H = negatif
- Energi yang diperlukan pada pemutusan ikatan pereaksi <
energi yang dilepaskan pada pembentukan ikatan hasil reaksi, sehingga
reaksi tersebut banyak melepaskan enrgi.
- Energi yang diperlukan untuk mencapai keadaan teraktivasi
< energi yang dilepaskan pada pembentukan ikatan hasil reaksi, sehingga
reaksi tersebut banyak melepaskan energi.
Diagram energi yang menunjukkan reaksi endoterm dapat dijelaskan melalui:
- Entalpi awal (H1) < entalpi akhir (H2)
menunjukkan sistem menyerap energi dari lingkungan , ∆H = positif
- Energi yang diperlukan pada pemutusan ikatan pereaksi >
energi yang dilepaskan pada pembentukan ikatan hasil reaksi, sehingga
reaksi tersebut lebih banyak menyerap enrgi.
- Energi yang diperlukan untuk mencapai keadaan teraktivasi >
energi yang dilepaskan pada
pembentukan ikatan hasil reaksi, sehingga reaksi tersebut lebih banyak menyerap
energi.
Ea = Energi aktivasi = energi minimum yang harus
dimiliki partikel pereaksi agar reaksi dapat berlangsung.
Partikel yang memiliki Ea maka partikel tersebut mencapai kondisi partikel yang teraktivasi (partikelnya siap memutuskan ikatannya dan siap membentuk ikatan baru).
Keadaan teraktivasi merupakan
ü kedaan partikel yang tidak stabil
ü keadaan partikel memiliki energi yang besar
PENGERTIAN ∆H
H berasal dari kata bahasa Jerman "Heat content" (isi kalor),
Dalam praktik ilmiah internasional sekarang lebih dikenal sebagai entalpi.
Pengertian Entalpi
* Entalpi
(H) adalah besaran termodinamika yang menyatakan jumlah energi total dalam suatu sistem pada tekanan
konstan.
* Energi total ini
mencakup:
1. Energi dalam (U) → energi kinetik & potensial partikel.
2. Energi tekanan–volume (p·V) → energi yang dibutuhkan sistem untuk “mendorong”
lingkungannya.
Secara matematis:
H
U = Energi dalam sistem
P = tekanan sistem
V = volume sistem
Kesimpulan:
Entalpi adalah ukuran energi total suatu sistem pada tekanan konstan
Perubahan
entalpi (ΔH) menunjukkan apakah suatu reaksi menyerap atau melepaskan energi.
Perubahan entalpi (ΔH) adalah perubahan panas dari reaksi pada suhu dan tekanan yang tetap, yaitu selisih antara entalpi zat-zat hasil dikurangi entalpi zat-zat reaktan.
Rumus : ΔH = HP - HR
ΔH = Hakhir - Hawal
ΔH = H2 – H1
ΔH : perubahan entalpi
HP :
entalpi product
(hasil reaksi )
HR : entalpi zat reactan.
PERSAMAAN
TERMOKIMIA
Persamaan
termokimia adalah persamaan reaksi yang mengikutsertakan perubahan entalpinya.
Karena entalpi
reaksi bergantung pada wujud zat yang terlibat dalam reaksi, maka wujud atau
keadaan zat harus dinyatakan, yaitu dengan membubuhkan indeks s (zat padat) , l (zat cair) , g (zat gas) dan aq
(zat larutan).
Jenis-jenis perubahan entalpi standar.
1. Perubahan entalpi pembentukan standar (ΔHof),
2. Perubahan entalpi penguraian standar (ΔHod),
3. Perubahan entalpi pembakaran standar ( ΔHoc).
4. Perubahan entalpi netralisasi (ΔHon = ΔHoneut)
5. Perubahan entalpi penguapan (ΔHovap)
6. Perubahan entalpi pelarutan (ΔHopelarutan)
7. Perubahan entalpi sublimasi (ΔHos)
8. Perubahan entalpi atomisasi (ΔHoatomisasi)
9. dan lain lain
Jenis-jenis perubahan entalpi standar.
1. Perubahan entalpi pembentukan standar (ΔHof) à f = formation = pembentukan
2. Perubahan entalpi penguraian standar (ΔHod) à d = decompotion = penguraian
3. Perubahan entalpi pembakaran standar ( ΔHoc) à c = combustion = pembakaran
- Mono atom : unsur unsur logam Fe, Zn , Cu , C, B dan lain lain
- Diatom : H2 , O2 , N2 , F2 , Cl2 , Br2 , I2
unsur + unsur + . . . à senyawa
H2(g) + S(s) +2O2(g) à H2SO4(l)
Ciri reaksi penguraian :
Senyawa à unsur + unsur + . . .
H2SO4(l) à H2(g) + S(s) +2O2(g)
Ciri reaksi pembakaran sempurna :
Zat + O2 à
Pembakaran karbon : C(s) + O2(g) à CO2(g)
Pembakaran hidrogen : H2(g) + ½ O2(g) à H2O(g)
Pembakaran CO : CO(g) + ½ O2(g) à CO2(g)
Pembakaran belerang: S(s) + O2(g) à SO2(g)
Pembakaran SO2 : SO2(g) + ½ O2(g) à SO3(g)
Contoh :
1).
Reaksi 1 mol gas metana dengan 2 mol gas oksigen membebaskan kalor sebesar
802,3 kJ pada temperatur 298 K dan tekanan 1 atmosfer. Persamaan termokimianya
dapat dituliskan sebagai berikut:
CH4(g) + 2 O2(g) à CO2(g) + 2 H2O(g) ΔH = -802,3 kJ/mol
2)
Reaksi antara karbon dan gas hydrogen membentuk 1 mol C2H2
pada temperatur 298 K dan tekanan 1 atmosfer membutuhkan kalor sebesar 226,7
kJ. Persamaan termokimianya dapat dituliskan sebagai berikut:
2C(s) + H2(g) à C2H2(g) ΔH = +226,7 kJ/mol
Perubahan entalpi (ΔH) adalah sifat ekstensif ,
yaitu sifat yang bergantung pada jumlah zat. Oleh karena itu terdapat dua
aturan penting yang berhubungan dengan sifat tersebut, yaitu :
a) Jika persamaan termokimia dikalikan
dengan suatu bilangan (koefisien zat dikalikan dengan suatu bilangan), maka ΔH
juga merupakan hasil perkalian dengan bilangan itu.
Sebagai contoh, persamaan reaksi termokimia pada
pembentukan gas HCl.
H2(g) + Cl2(g) --à 2HCl(g) ΔH = -185 kJ.
Menyatakan bahwa reaksi 1 mol H2, dan 1 mol Cl2
menjadi 2 mol HCl, akan melepaskan kalor sebesar 185 kJ.
Jika kita ingin menyatakan ΔH pembentukan 1 mol gas HCl, maka koefisien HCl harus 1,
sehingga persamaan termokimianya ditulis sebagai berikut:
½ H2(g) + ½ Cl2(g) à HCl(g) ΔH = -92,5 kJ/mol.
Menyatakan bahwa reaksi ½
mol H2, dan ½ mol Cl2 menjadi 1 mol HCl, akan
melepaskan kalor sebesar 92,5 kJ/mol.
b) Jika persamaan termokimia arahnya dibalikkan, nilai ΔH berubah tanda. Dengan kata lain penulisan reaksi
eksoterm merupakan kebalikkan reaksi endoterm.
H2(g)
+ Cl2(g) à 2HCl(g) ΔH = -185 kJ.
Maka pada reaksi penguraian HCl
menjadi unsure-unsurnya memerlukan kalor (endoterm).
2HCl(g) à H2(g) + Cl2(g) ΔH = +185 kJ.
Soal latihan:
1.Tuliskan
persamaan termokimia untuk masing-masing reaksi berikut:
a. Untuk
menguraikan 2 mol ammonia menjadi gas nitrogen dan gas hydrogen diperlukan
kalor 92 kJ.
b. Pada
pembentukan 1 mol air dari gas hydrogen dan gas oksigen dibebaskan 286 kJ.
c. Pembakaran
1 mol gas etena membentuk karbondioksida dan uap air menghasilkan 142 kJ.
d.Reaksi
antara 1 mol Fe2O3 dengan karbon membentuk besi dan
karbon monoksida memerlukan 621 kJ.
e. Untuk
menguraikan 1 mol kalsium karbonat menjadi kalsium oksida dan karbon dioksida
diperlukan 178 kJ.
2. Diketahui persamaan termokimia
N2(g) + 3H2(g) à 2NH3(g)
ΔH = - 92 kJ
Hitunglah nilai ΔH untuk reaksi-reaksi berikut:
a. ½ N2(g)
+ 3/2 H2(g) à NH3(g) ΔH = ?
b. 2N2(g)
+ 6H2(g) à4NH3(g) ΔH = ?
c. 2NH3(g) à N2(g)
+ 3H2(g) ΔH = ?
d. NH3(g) à ½ N2(g)
+ 3/2 H2(g) ΔH = ?
e. 4NH3(g) à 2N2(g)
+ 6H2(g) ΔH = ?
3.
Diketahui Ar H= 1 dan N= 14
dalam reaksi penguraian 2 mol amonia sesuai persamaan termokimia:
2NH3 (g) à N2(g)
+ 3H2(g) ΔH = +560 J
maka tentukan nilai ΔH reaksi:
a. Penguraian 8,5 gram NH3
b. Untuk menghasilkan 28 gram gas N2
c. Untuk menghasilkan 12 gram H2
4.
Diketahui persamaan termokimia
2SO2(g) + O2(g) à 2SO3(g) ΔH = -198 kJ
a. Berapakah
perubahan entalpi pembentukan standar gas SO3?
b. Berapakah
perubahan entalpi jika SO2 yang bereaksi 12,8 gram? (Ar S= 32, O=
16)
c. Berapakah
perubahan entalpi jika SO3 yang terbentuk sebanyak 20 gram? (Ar S=
32, O= 16)
d. Berapakah
perubahan entalpi jika volum SO3 yang terjadi 10 liter ( 25oC,
1 atm, R = 0,082 l.atm/mol.K))?
5.
Pada reaksi pembakaran gas CO
berikut:
CO(g) + ½ O2(g) àCO2(g) DH = -485 kJ, maka pada pembakaran 7 gram CO
(Ar C=12, O=16) dibebaskan kalor
sebesar :
6.
Diketahui reaksi pembakaran gas
asetilena:
C2H2(g) + O2(g) à 2CO2(g)+ 2H2O(g) D
H = -120
Kj.
Maka
pada pembakaran 5,6 liter C2H2 keadaan standar (keadaan
STP) dihasilkan kalor sebesar:
( keadaan STP maka T = 0oC, 1 atm, R = 0,082 l.atm/mol.K)
LINK Pengumpulan Jawaban Soal Latihan
atau
https://forms.gle/JLiZgx5imGKPqb6s8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar